Seni Baca Al Qur’an

Rasul S.A.W. bersabda “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu (Hadist Riwayat An-Nasai)”. Musabâqah Tilâwatil Qur’ân (MTQ), secara harfiah dapat diartikan “Perlombaan Seni Membaca Al-Qur’an”, meskipun demikian dalam prakteknya bukan hanya terbatas pada perlombaan seni membaca Al-Qur’ân, akan tetapi perlombaan Hifzal Qur’ân (Hapalan), Fahmil Qur’ân (Pemahaman), Syarhil Qur’ân (Menjelaskan), Tafsir Qur’ân (Menafsirkan), bahkan Kitat Al-Qur’ân (Tulisan Indah) pun diperlombakan dalam kegiatan ini.

Musabâqah Tilâwatil Qur’ân (MTQ) yang sudah menjadi program pemerintah negeri ini, bukan dimaksud untuk seremonial belaka, tapi jauh kedepan bertujuan untuk menjaring para qori dan qoriah yang handal, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, perguruan tinggi, provinsi, nasional hingga internasional. Terlebih-lebih lagi bila melihat pada cabang-cabang yang diperlombakan, MTQ dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan pemahaman dan internalisasi ajaran-ajaran agama Islam, dan pada gilirannya dapat menepis anggapan bahwa kegiatan ini hanya seremonial malah sebaliknya MTQ merupakan kegiatan yang bersifat monumental dan menimbulkan kesan yang agung, paling tidak akan menanamkan bibit kecintaan kepada Al-Qur’ân bagi kaum muslimin disaat mendengar lantunan suara yang merdu.

Dipandang dari sisi psikologis keagamaan, MTQ juga dapat mempengaruhi jiwa, bahkan menghidupkan jiwa yang lesu, merobah moralitas, dan merobah pola pikir umat Islam. Oleh sebab itu, MTQ perlu dilakukan secara rutin di berbagai tempat dan tingkatan disamping memiliki alasan normatif. Berdasarkan hadist diatas, juga memperoleh justifikasi teologi, dan diperkuat oleh hadist Nabi Saw “Sebaik-baik Kamu Adalah Orang Yang Belajar Al-Qur’ân Dan Mengajarkannya”. (H.R. Buchari).

Kepedulian terhadap kegiatan MTQ perlu ditingkatkan terlebih-lebih lagi di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari tingkat rendah hingga ke perguruan tinggi, mengingat akhir-akhir ini kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’ân bagi masyarakat Muslim semakin menurun. Ironisnya kondisi yang tidak menguntungkan itu terjadi di perguruan tinggi Islam. Kondisi ini tidak wajar dibiarkan berlarut-larut, para unsur pimpinan perguruan tinggi sudah waktunya campurtangan dalam hal ini, dan mengatur langkah-langkah untuk menimbulkan kesadaran dan minat membaca dan memahami Al-Qur’ân

Jadwal Latihan dan Pembimbing Ekstra :

Hari  /  jam                               :  Rabu  / 16.00 wib – 17.30 wib

Pembimbing  dari dalam     :  Basuki Supriyadi,S.Ag

Pembimbing dari Luar         :  Jazuri

Seni baca Al Qur’an ialah bacaan Al Qur’an yang bertajwid diperindah oleh irama dan lagu.
Al Qur’an tidak lepas dari lagu. Di dalam melagukan Al Qur’an atau taghonni dalam membaca Al Qur’an akan lebih indah bila diwarnai dengan macam-macam lagu.

Untuk melagukan Al Qur’an , para ahli qurro di Indonesia membagi lagu atas 7 ( tujuh ) macam bagian. Antara lain sebagai berikut :

1. Bayati
2. Shoba
3. Hijaz
4. Nahawand
5. Rost
6. Jiharkah
7. Sikah

Dari 7 ( tujuh ) macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang. Macam – macam lagu dan cabangnya antara lain :
1. Bayati
a. Qoror
b. Nawa
c. Jawab
d. Jawabul jawab
e. Nuzul ( turun )
– shu’ud ( naik )
2. Shoba
a. Dasar
b. Ajami/Ala Ajam
Quflah Bustanjar/Qofiyah
3. Hijaz
a. Dasar
b. Kard
c. Kurd
d. Kard-Kurd
e. Variasi
4. Nahawand
a. Dasar
b. Jawab
c. Nakriz
d. Usysyaq
5. Rost
a. Dasar
b. Nawa/Rost ala Nawa
6. Jiharkah
a. Nawa
b. Jawab
7. Sikah
a. Dasar
b. Iraqi
c. Turki
d. Ramal (fales)

Dalam MTQ ( Musabaqoh Tilawatil Qur’an ) ada beberapa materi penilaian. Antara lain :
1. Materi penilaian bidang tajwid, terdiri dari :
a. Makharijul huruf
b. Shifatul huruf
c. Ahkamul huruf
d. Ahkamul mad wal qoshr
2. Materi penilaian bidang fashohah dan adab, terdiri dari :
a. Al Waqf wal – ibtida
b. Muroatul kalimat wal kharokat
c. Muroatul kalimat wal ayat
d. Adabut tilawah
3. Materi penilaian bidang irama dan suara, terdiri dari :
a. Suara
b. Irama dan variasi
c. Keutuhan dan tempo lagu
d. Pengaturan nafas

Kesalahan dalam bidang suara dan irama
1. Kesalahan dalam suara terdiri dari :
a. Suara kasar
b. Suara pecah
c. Suara parau
d. Suara lemah
2. Kesalahan dalam irama terdiri dari :
a. lagu yang tidak utuh
b. tempo lagu yang terlalu cepat atau terlalu lambat
c. irama dan variasi yang tidak indah
d. pengaturan nafas yang tidak terkendali

Kesalahan dalam bidang Tajwid serta Fashohah dan adab ada dua macam :
1. Kesalahan Jali, yaitu kesalahan yang dapat merusak makna dan merusak ketentuan Tajwid/ qiroat yang sah. Disebut Jali karena kesalahan itu diketahui oleh ahli qiroat maupun yang bukan ahlinya
2. Kesalahan Khafi, yaitu kesalahan yang merusak ketentuan tajwid/qiroat, tetapi tidak merusak makna. Disebut Khafi karena hanya diketahui oleh ulama ahli qiroat saja

%d blogger menyukai ini: